Kontenin.id – Di Ponorogo, Jawa Timur, suara takbir tak hanya terdengar dari masjid, tapi juga dari arak-arakan seni Reog yang ikut meramaikan malam Idul Adha. Iringan gamelan dan barongan menjadi bagian dari tradisi takbir keliling yang menggabungkan syiar Islam dengan budaya lokal.
Tradisi serupa terjadi di berbagai belahan dunia. Di Nigeria, misalnya, Idul Adha dirayakan bukan hanya dengan salat dan pemotongan hewan kurban, tapi juga parade budaya. Warga berpakaian tradisional, menunggang kuda berhias emas dan perak, menyusuri jalanan kota dalam rangka Eid el-Kabir. Di beberapa wilayah, pertunjukan ini merupakan bagian dari penghormatan terhadap raja-raja Islam lokal.
Di India, khususnya Hyderabad, Idul Adha menjadi ajang pesta kuliner. Makanan khas seperti biryani kambing dan haleem disajikan di ruang-ruang publik dan dibagikan kepada semua orang. Tradisi berbagi ini berlangsung terbuka, tak mengenal perbedaan agama, suku, atau status sosial.
Berbeda lagi dengan komunitas Muslim Hui di Tiongkok. Di wilayah seperti Ningxia dan Yunnan, warga Muslim membersihkan masjid bersama-sama sehari sebelum Idul Adha. Setelah salat, mereka berziarah ke makam keluarga sambil membagikan daging kurban ke tetangga yang membutuhkan.
Sementara di Ethiopia, toleransi lintas agama menjadi ciri khas perayaan. Di Wollo, misalnya, umat Muslim mengundang tetangga Kristen untuk ikut makan bersama. Mereka duduk dalam satu meja, menikmati daging kurban sebagai simbol solidaritas dan kerukunan.
Di Pakistan, kendala teknis tak menghalangi semangat berbagi. Warga kota seperti Karachi menyiasati listrik padam dan pemotongan hewan berhari-hari dengan menyewa peti es portabel. Petugas pengangkut berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyimpan daging agar tetap layak konsumsi.
Beragamnya tradisi ini mencerminkan bagaimana perayaan Idul Adha melampaui ritual ibadah. Ia menjelma menjadi ekspresi kebudayaan, solidaritas sosial, hingga inovasi dalam menghadapi tantangan lokal. K-7






















