BerandaBerita TerkiniWajah dan Suara Seseorang Bisa Ditiru AI, Deepfake Mengintai Dunia Digital

Wajah dan Suara Seseorang Bisa Ditiru AI, Deepfake Mengintai Dunia Digital

kontenin.id-Dunia digital kini dihadapkan pada ancaman baru yang tak kasat mata namun sangat berbahaya, penipuan menggunakan teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mampu memalsukan wajah dan suara seseorang dengan akurasi tinggi, menciptakan ilusi yang begitu meyakinkan hingga sulit dibedakan dari kenyataan.

Di balik kemajuan teknologi, muncul kekhawatiran akan penyalahgunaan yang sudah mulai terjadi. Kasus penipuan dengan menggunakan video deepfake CEO di perusahaan multinasional tahun lalu membuat geger dunia korporasi. Seorang karyawan tertipu untuk mentransfer uang ratusan juta rupiah karena yakin mendapat instruksi langsung dari pimpinan perusahaan, padahal itu hanya video palsu hasil manipulasi AI.

“Sekilas tidak ada yang mencurigakan. Gerak bibir, suara, ekspresi semua tampak alami. Baru sadar setelah uang hilang,” ujar Farhan (nama samaran), staf keuangan yang menjadi korban penipuan deepfake.

Tak hanya dunia bisnis yang terancam. Masyarakat umum pun mulai menjadi sasaran, mulai dari penipuan bermodus suara palsu anggota keluarga yang minta tolong, hingga video hoaks tokoh publik yang dapat memicu disinformasi dan perpecahan sosial. Bahkan, beberapa laporan menyebut adanya pemerasan melalui video palsu berisi konten intim, yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh korban.

Menurut pakar keamanan siber dari Indonesia Cyber Security Forum, dr. Anisa Prasetya, ancaman deepfake ini makin nyata karena alat dan teknologi untuk membuatnya kini mudah diakses publik.

“Dulu butuh keahlian tinggi dan perangkat canggih. Sekarang, cukup dengan aplikasi di ponsel, siapa pun bisa membuat wajah orang lain berkata apa pun yang mereka mau,” jelasnya.

Minimnya regulasi di Indonesia juga menjadi celah yang mengkhawatirkan. Hingga saat ini, belum ada undang-undang khusus yang mengatur atau menghukum penyalahgunaan teknologi deepfake secara spesifik, meski dampaknya bisa sangat besar.

Upaya pencegahan perlu dimulai dari edukasi publik. Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati saat menerima informasi visual atau suara yang tidak diverifikasi, terutama jika berkaitan dengan permintaan uang, data pribadi, atau konten sensitif.

“Jangan mudah percaya video atau suara yang viral. Selalu periksa kebenarannya, konfirmasi langsung jika perlu,” tambah Anisa.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, teknologi deepfake adalah contoh nyata bahwa inovasi harus diiringi dengan kesadaran etis dan perlindungan hukum. Jika tidak, kejahatan digital bisa semakin sulit dilacak, dan korban kian banyak berjatuhan.K-9

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular