Kontenin.id – Petang itu, Arif Setiawan (26) sedang mengetik laporan di meja kecil sebuah kantor lembaga swadaya masyarakat di Sleman. Di balik jendela kaca, hamparan sawah menguning menyambut musim panen. Namun Arif, sarjana pertanian lulusan salah satu kampus negeri ternama, enggan turun ke ladang. “Saya cinta pertanian, tapi bukan jadi petani,” katanya lirih.
Arif berasal dari keluarga petani di Kulon Progo. Sejak kecil, ia melihat ayahnya menanam padi, bawang, dan jagung dengan penuh perjuangan, tapi hasilnya sering tidak sepadan. “Harga panen nggak pasti. Dulu bapak pernah rugi dua kali musim karena harga cabai jatuh,” ujarnya.
Paradoks Sarjana Pertanian
Setiap tahun, ribuan sarjana pertanian dihasilkan dari berbagai kampus di Indonesia. Namun ironisnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar menjadi petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa usia petani Indonesia terus menua, dengan rata-rata lebih dari 45 tahun. Regenerasi macet.
Di sisi lain, banyak sarjana pertanian memilih menjadi ASN, staf perusahaan agribisnis, atau bekerja di luar sektor pertanian sama sekali.
“Masalahnya bukan pada ilmunya, tapi ekosistemnya,” kata Sri Wahyuni, dosen pertanian di Universitas Gadjah Mada. “Bertani itu padat modal, padat risiko, tapi minim perlindungan. Anak muda, apalagi yang baru lulus, butuh jaminan untuk memulai.”
Benih, Pupuk, dan Beban Biaya
Salah satu penghalang besar bagi petani muda adalah akses terhadap benih dan pupuk yang berkualitas. Harga benih unggul bisa mencapai ratusan ribu per kilogram, sementara pupuk subsidi langka dan distribusinya tidak merata.
“Pupuk bersubsidi sering habis duluan, dan kalau beli yang non-subsidi, harganya bisa dua kali lipat,” ujar Andini (27), petani muda di Magelang yang sempat mencoba bertani setelah lulus. Ia akhirnya memilih menjadi penyuluh swasta karena margin keuntungan terlalu tipis.
Belum lagi harga jual hasil panen yang fluktuatif. Tanpa kontrol harga dan jaminan pasar, petani bekerja dalam ketidakpastian yang konstan. “Pas tanam mahal, pas panen murah,” kata Andini.
SDM dan Kurikulum yang Jauh dari Ladang
Kurikulum di banyak fakultas pertanian dinilai terlalu teoritis. Praktik lapangan terbatas, dan mahasiswa lebih sering berurusan dengan laporan laboratorium ketimbang cangkul.
“Banyak lulusan pertanian yang bahkan belum pernah nanam padi seumur hidupnya,” kata Budiarto, petani sekaligus aktivis tani di Bantul. “Gimana mau jadi petani?”
Selain itu, kemampuan manajerial, akses ke modal, dan literasi teknologi pertanian modern belum jadi bekal utama lulusan. Padahal, untuk bertani secara profesional, butuh lebih dari sekadar tahu unsur hara dan pH tanah.
Pulang Kampung, Tapi Tidak Jadi Petani
Bagi Arif, pilihan untuk tidak menjadi petani bukan berarti ia meninggalkan dunia pertanian sepenuhnya. Ia kini aktif membina kelompok tani milenial dan mendorong keterlibatan anak muda lewat pelatihan pertanian berbasis teknologi.
Namun, ia sadar, tanpa reformasi struktural, jumlah petani muda tak akan tumbuh. “Kita butuh kebijakan yang berpihak, mulai dari akses lahan, subsidi pupuk, pembenahan rantai distribusi, sampai harga yang stabil. Kalau tidak, pertanian hanya akan jadi romantisme dalam proposal skripsi”. K-7






















