BerandaBerita TerkiniMalas dan Manipulatif, Dua Sifat yang Bisa Mengarah ke Gangguan Psikologis Serius

Malas dan Manipulatif, Dua Sifat yang Bisa Mengarah ke Gangguan Psikologis Serius

Kontenin.id – Sifat malas dan penuh tipu daya bukan hanya soal karakter atau kebiasaan buruk. Dalam pandangan psikologi, keduanya bisa menjadi sinyal awal gangguan mental yang lebih kompleks, bahkan berisiko jika dibiarkan berlarut-larut.

Psikolog mengidentifikasi bahwa perilaku malas, terutama dalam bentuk menunda pekerjaan tanpa alasan jelas, sering kali berkaitan dengan prokrastinasi, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang terus-menerus menunda tugas meski mengetahui konsekuensinya.

Bila berlangsung lama dan parah, perilaku ini bisa berkembang menjadi avolisi, yakni hilangnya dorongan melakukan aktivitas, yang umum ditemukan pada penderita depresi atau skizofrenia.

“Malas bukan hanya soal tidak mau bergerak, tapi bisa jadi bentuk kegagalan dalam mengatur dorongan diri, atau bahkan tanda awal gangguan mood,” ujar seorang psikolog klinis, Rabu (25/6).

Sementara itu, sifat penuh tipu daya atau manipulatif juga menjadi perhatian serius dalam dunia psikologi. Karakter ini dapat muncul dalam spektrum ringan hingga berat, dan dalam kasus tertentu dikaitkan dengan kepribadian Machiavellianism, bagian dari apa yang disebut sebagai Dark Triad Personality Traits.

Dark Triad mencakup tiga pola kepribadian negatif, yakni Machiavellianism (manipulatif dan licik), narsistik (haus pengakuan dan ego tinggi), serta psikopatik (tidak punya empati dan cenderung impulsif). Individu yang masuk dalam pola ini kerap bersikap menipu dan memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi, tanpa rasa bersalah.

“Jika sifat manipulatif ini terjadi secara konsisten dan ekstrem, bisa mengarah pada gangguan kepribadian antisosial (ASPD), yaitu kecenderungan melanggar hak orang lain dan tidak menghormati norma sosial,” kata psikolog forensik dari Universitas Indonesia.

Pakar menyarankan agar masyarakat tidak menyepelekan perilaku yang terlihat seperti “malas biasa” atau “pandai memanipulasi”. Jika sifat tersebut mulai merusak relasi sosial, pekerjaan, atau muncul sejak usia muda, ada baiknya dilakukan evaluasi psikologis lebih lanjut.

“Stigma sering membuat orang enggan mencari bantuan. Padahal deteksi dini bisa mencegah gangguan berkembang menjadi kronis,” tambahnya.

Dalam era yang penuh tekanan sosial dan digital, gangguan kepribadian bisa berkembang diam-diam di balik sikap yang tampak biasa. Mewaspadai sinyal awal seperti malas ekstrem dan manipulatif kronis, bisa menjadi langkah awal menjaga kesehatan mental pribadi maupun orang-orang di sekitar.K-07

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular