BerandaBerita TerkiniCoca‑Cola Tutup di Bali, Pemerintah Santai, Gelombang PHK Mengintai

Coca‑Cola Tutup di Bali, Pemerintah Santai, Gelombang PHK Mengintai

Kontenin.id – Buruh kehilangan penghasilan, negara berkampanye lewat selfie dan anggaran efisiensi. PHK nasional bukan lagi gosip, tapi realita. Pemerintah? Tetap santuy.

Sementara itu, gelombang PHK besar-besaran di Bali bukan skenario fiksi ilmiah, melainkan bahaya nyata yang mengintai. Kalau tidak ada intervensi cepat, satgas, bantuan langsung, peta mitigasi industri, gelombang ini bisa lebih dahsyat daripada tsunami mangga di Musim Mangga.

Tutupnya Pabrik Coca‑Cola di Mengwi

Pabrik Coca‑Cola di Werdi Bhuwana resmi tutup per 1 Juli 2025, menyisakan 70 pekerja kehilangan pekerjaan. Iya, mereka digulung seragamnya tanpa sempat cuti, sementara pejabat sibuk selfie bersama TPS3R.

PHK Ini Bukan Mitos

Pemerintah masih kondisional bilang, dengan santai berucap “tenang, itu hanya gosip.” Tapi data nasional berkata lain: 18.610 orang di-PHK hingga Februari 2025, melonjak tajam dari 3.325 kasus di Januari.

Proyeksi mengerikan datang dari KSPI, sekitar 50 ribu pekerja bakal kena PHK gelombang kedua, dipicu tarif AS dan lemahnya permintaan domestik. Sementara sektor pariwisata Bali? Okupansi jeblok hingga 20%, dan pelaku PHRI sudah mewanti-wanti “gelombang PHK massal di depan pintu”.

Saat Pemerintah Santuy

Pejabat bilang, “pesangon dibayar, BPJS lunas, ada pelatihan.” Tapi tau sendiri, pelatihan itu sering hanya formalitas, difoto, lalu bubar. Publik bertanya, pelatihan buat jadi apa? Jualan nasi goreng online kah?

Sementara itu, Gubernur menyebut PHK pariwisata “gosip” karena okupansi “stabil”. Stabil? Iya, stabil rendah, sisi ceritanya mereka lupa bilang “20% hunian”?.

Dan Ini Belum Semu

Bukan hanya Coca‑Cola. Banyak sektor industri padat modal, otomotif, elektronik, tekstil, sedang mengetuk pintu PHK. Pengamat memperkirakan gelombang PHK padat modal ini meluas di 2025.

Kemenperin bahkan larang pabrikan mobil PHK, tapi tetap jengkel melihat “tekanan luar biasa” alias tekanan tagihan, bukan tenaga kerja murah. K-7

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular