BerandaBerita TerkiniBandara Puluhan Triliun Mau Dibangun, Koster Pura-Pura Bingung, Nunggu Bisikan Langit

Bandara Puluhan Triliun Mau Dibangun, Koster Pura-Pura Bingung, Nunggu Bisikan Langit

Kontenin.id – Dalam kisah pembangunan infrastruktur nasional yang penuh lika-liku, cerita Bandara Bali Utara barangkali layak masuk kurikulum stand-up comedy politik. Bayangkan, proyek bernilai Rp50 triliun siap dibangun tanpa minta sepeser pun dari APBN, tapi Gubernur Bali Wayan Koster malah geleng-geleng kepala, pura-pura nggak dengar, dan tampaknya masih menunggu bisikan dari Ibu Megawati.

Adalah PT BIBU Panji Sakti, perusahaan yang barangkali lebih gigih dari jomblo yang dighosting, akhirnya berhasil menghidupkan kembali proyek Bandara Bali Utara yang sudah lama ngendap seperti proposal skripsi mahasiswa tingkat akhir. Mereka menggandeng investor asal China, dan siap mewujudkan bandara lengkap dengan kawasan aerotropolis, aerocity, hingga jalan tol. Semua itu tanpa menyentuh uang rakyat satu rupiah pun. Luar biasa, bukan?

Namun di sudut lain panggung politik Bali, Gubernur Koster tampil dengan gaya khas, bingung tapi tenang. Saat ditanya soal pembangunan bandara yang katanya akan mulai tahun ini, Koster justru balik bertanya, “Oh PT BIBU mau membangun? Dari mana uangnya?”

Pertanyaan yang sungguh menyentuh, mengingat jawabannya sudah tertulis di rilis pers dan berita-berita daring. Tapi ya wajar, mungkin sang gubernur tidak sempat baca, sibuk menghadiri rapat paripurna dan mengecek kalender Ibu Ketua Umum.

Seolah belum cukup, Koster menambahkan bahwa belum ada komunikasi antara Pemprov Bali dengan pihak investor. Padahal, proyek ini sudah masuk dalam RPJMN 2025–2029 versi pemerintahan Prabowo. Tapi bagi Koster, yang belum jelas bukan hanya dananya, melainkan juga “infrastruktur pendukung”. Katanya, “Kalau didukung pemerintah pusat, tentu kita akan ikut kebijakan pusat.”

Begitulah, ketika pusat sudah green light, investor sudah siap, dan rakyat berharap lapangan kerja, ternyata bandara masih terganjal satu hal penting, sinyal dari pusat versi Ketua Umum. Sebab dalam politik Bali, tampaknya restu pembangunan kadang tidak hanya soal teknis, tapi juga spiritual-spiritual partai.

Dan begitulah nasib Bandara Bali Utara. Ia bisa jadi simbol kemajuan, tapi juga bisa jadi monumen penantian, seperti jodoh yang tak kunjung datang karena “belum ada komunikasi”.

Setidaknya, kita sudah tahu siapa yang sungguh-sungguh ingin membangun, dan siapa yang sungguh-sungguh manut. K-07

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular